harga jasa desain rumah murah online


Rumah bagi Masyarakat Kudus



Rumah bagi Masyarakat Kudus


Di Nusantara yang tiap masyarakatnya memiliki latar belakang demografi yang berbeda, makna rumah bisa amat beragam. Bagi masyarakat Jawa misalnya, orang yang sudah berkeluarga idealnya memiliki rumah sendiri. Oleh karena itu, ada kaitan erat antara istilah omah-omah (rumah tangga) dan omah (rumah).

KONSEP kebutuhan utama yaitu sandang. pangan, dan papan, turut mengukuhkan betapa mendasarnya kebutuhan akan rumah. Rumah merupakan salah satu tujuan utama bagi setiap keluarga. Rumah dalam kebudayaan Jawa terpandang sebagai mikrokosmos dan pandangan penghuni sebagai makrokosmosnya. Perwujudan rumah pun kemudian senantiasa dirancang dengan menggunakan pedoman tertentu yang mencerminkan pandangan tersebut.

Salah satu bagian dari masyarakat Jawa yang memiliki konsep cukup kompleks tentang rumah adalah masyarakat Kudus. Persilangan budaya Jawa, China, Hindu, dan Islam, membuat tradisi pada masyarakat ini amat kaya. Sebagai orang Jawa yang memegang teguh ajaran Islam, orang orang Kudus mempunyai pandangan bahwa rumah adalah salah satu sarana dan rangkaian kebutuhan hidup untuk beribadah.

Berbagam simbol dalam rurnah tradisional Kudus, baik yang buatan manusia maupun yang alami, dikaitkan dengan nilai-nilai sosial dan religius. Rumah Kudus biasanya dihiasi dengan ukiran-ukiran. Setiap ukiran menyimpan makna yang berbeda. Motif hias daun pisang misalnya, merupakan simbol keinginan untuk beramal baik. Motif hias bunga telasih menyiratkan kasih sayang antar anggota keluarga. Motif hias sulur-suluran menyimbolkan kesuburan. Ada pula motif kepala kala yang merupakan simbol kewaspadaan. Pengaruh budaya China misalnya, tampak pada motif hias ular naga yang merepresentasikan nilai keuletan, kekuatan, dan keberuntungan.

Selain itu, simbol-simbol alami pun diberi makna oleh masyarakat Kudus. Pohon belimbing yang diletakkan di dekat sumur (tempat wudhu) contohnya. Buah belimbing yang memiliki lima sisi dimaknai sebagai pengingat akan iman rukun Islam. Ada lagu amat terkenal gubahan Sunan Kalijaga yang memperlihatkan hubungan arbitrer (dimaknai manasuka) antara belimbing dengan kewajiban salat, “Lir llir”. Dalam lirik lagu tersebut, diceritakan seorang anak gembala diminta memetik belimbing untuk mencuci pakaian supaya layak digunakan untuk menghadap Allah (shalat) sore harinya.

Ada pula pohon jaranan (kuda) yang menyimbolkan usia yang panjang atau pohon andong-anding sebagai bagian dari tata lanskap halaman depan rumah. Kudus sebagai simbol agar penghuni senantiasa diberi rezeki. Hal-hal tersebut hanya sekelumit bagian dari pemaknaan orang Kudus atas hunian. Mereka masih punya deretan panjang nilai budaya pada rumah yang bisa dieksplorasi dan dipahami.